Minggu, 20 November 2016

Jika aku

Jika aku boleh memilih, aku ingin menjadi hujan. Aku akan menjelma menjadi tetesannya yang turun pelan-pelan. Mencuri pandangan mu dari balik jendela, menyimpan senyum mu di atas awan kelabu.

Tapi sayang, aku hanya mendung yang terbawa angin. Tak pernah sampai di halamanmu. Terlalu jauh aku bergerak dan pada akhirnya jatuh terhempas di tempat yang tak ku harap.

Sabtu, 06 Agustus 2016

jika kau tak bisa mencintai
kau tak akan sedih

jika kau memiliki perasaan pada orang lain
seseorang akan menangis
perasaan seseorang akan dikorbankan dan tersakiti

jika itu arti cinta sebenarnya
jatuh cinta pada seseorang benar-benar picik

Imaji Terakhir

 Aku bermimpi indah. Sebuah mimpi yang lebih indah dari bunga manapun.

Udara dingin yang datang menyelinap masuk ke dalam selimut membangunkan ku. Tanpa ku sadari satu hari telah berlalu.

Musim pun telah berubah. Langit biru dengan sekumpulan awan yang menghampar bagai sebuah kanvas yang dapat ku gambar sesuka hati.

"Akankah aku bertemu lagi dengannya?"
"Akankah dia berkenan untuk menemui ku lagi?"

Semua hal selalu terlihat begitu indah dari kejauhan. Tapi jika aku melangkah lebih dekat, apa yang akan dunia perlihatan kepada ku? Aku masih menyimpan banyak keraguan.

"Akankah dia sudi membiarkan ku bersandar padanya?"
"Akankah dia membukakan hatinya sedikit lebih banyak lagi?"

Pernahkah kau merasa seperti sudah tertidur begitu lama? Ketika udara terasa agak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ketika waktu terasa tidak ramah. Ketika semua hal terasa sangat tidak nyaman.

Pagi ku adalah malam untuk mereka. Aku tak dapat memungkiri kenyataan itu. Aku selalu bertanya-tanya, apakah hal tersebut yang membuat ku merasa hampa dan tersendiri.

Imaji terakhir pagon di hati.

Jika memang aku bisa terbang, aku akan menemuimu. Aku percaya akan mimpi ku semalam, walau masih banyak hal yang sayup-sayup. Semua akan baik-baik saja jika aku berani membuka pintu itu dan berjalan keluar, bukan?

"Akankah dia mampu untuk menunggu ku dengan sabar?"

Tolong berdoalah agar aku tidak terjatuh. Percayalah pada ku.

Kamis, 21 Juli 2016

Plastik

Aku adalah sebuah plastik yang tak berharga dan penyebab banyak kesukaran. Aku masih ingin hidup (lagi).

Siapa yang akan menyelamatkanku setelah aku mati? Bisakah aku melihat sesuatu dalam kegelapan? Apakah akan ada seseorang yang menangisi kepergianku?

Hanya keheningan yang datang setelah aku berteriak, bahkan tidak ada satupun gema.

Mengapa aku masih bisa merasakan kegelapan dalam diriku? Mengapa aku tidak bisa merasakan cahaya meskipun aku tahu itu ada? Aku membutuhkan uluran tangan.

Tolonglah,
ini adalah pengakuan pertamaku dalam hidup ini.

Mengapa kau membuatku bukan siapapun? Apa kau tidak menyukai aku yang seperti ini? Aku hanya ingin bernafas (lagi).

Apa yang paling aku inginkan adalah keajaiban sebagaimana proses seorang ibu melahirkan.

Tolong selamatkan aku
(Aku bukan apa-apa)
Tolong selamatkan aku
(Mengapa aku bukan siapa-siapa?)
Tolong selamatkan aku
(Sekali lagi)

Aku bukanlah plastik yang tak berharga dan penyebab banyak kesukaran. Aku masih ingin hidup (lagi). Aku tidak ingin menyerah lagi.

Aku tidak yakin apa kau bisa merasakannya, tapi air mata ku masih mengalir. Iya, entah air mata ini mengalir atau tidak, kau terlalu jauh dariku untuk melihatnya. Jadi, tolong katakan padaku dalam jarak yang dekat, karena aku tidak bisa mendengarmu mengucapkan 'aku minta maaf'.

Tapi aku bukan apa-apa.
Jangan merasa bersalah.

Aku tahu benar bahwa aku tidak dilahirkan dengan cinta. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan semuanya.

Karena aku adalah sebuah plastik

Sekarang aku benar-benar menginginkanmu untuk memilikinya. Tolong terimalah.

Terasa canggung saat melihat isi ruangan tanpa kehadiran kau di dalamnya, saat aku memanggil namamu di pagi hari tanpa menyadarinya, saat aku menangis tanpa alasan dalam kesendirianku di malam hari.

Tidak ada lagi dirimu.
Saat kau menatap jurang terlalu lama, jurangnya juga akan menatap mu. Saat kau mencoba mengungkap rahasia seseorang, rahasiamu sendiri mungkin akan terungkap. Selalu ada resiko untukmu.

Kadang, aku merasa seperti seluruh dunia berwarna abu-abu, seolah-olah waktu masih terhenti. Bagiku, ada juga saat seperti itu.

Tapi waktu tak pernah berhenti. Waktu bergerak maju tanpa akhir, sepasti tubuh terkubur di dalam tanah suatu hari akan menjadi tulang putih.

Dengar, kaulah yang selalu menghentikan waktu, kalau kau berhenti dalam ketakutan masa depan, kau tidak akan meningkatkan apa-apa dan tidak memulai apa-apa.

Kau menghabiskan hidupmu seperti orang yang sudah mati. Entah kau mengharapkannya atau tidak, waktu tidak akan berhenti. Makanya, tiada yang lebih menarik dari dunia ini.

Jangan terlalu negatif. Kau belum menjadi abu. Kau masih punya daging, darah dan juga tulang yang mendukungmu.

Waktu tidak akan berhenti, seberapa dalam kau peduli pada seseorang, nantinya kau akan tetap mengatakan selamat tinggal. Tidak peduli seberapa dalam kau peduli atau mencintai seseorang, hidup mereka akan berakhir.

Tapi kalau itu masalahnya, apa yang tersisa untuk kita? Hanya sentimen yang tak berguna? Apakah hanya tulang yang tetap ada setelah kehidupan berakhir?

Aku tidak tahu apa yang ada di depan. Jujur saja, aku takut. Tapi aku masih ingin bersamamu, aku ingin menghabiskan waktu yang sama denganmu, juga melihat dunia yang sama. Meski mungkin memang sakit, aku sudah bersiap untuk melihatnya.

Dia yang melihat dan mencari keputusasaan yang membuatmu terkubur di dalamnya, ketakutan, dan mimpi tak terwujud.

Walaupun dia adalah jurang yang tidak boleh dilihat. Walaupun dia sudah melihat balik pada kita, aku tetap ingin pergi bersama mu, karena aku tahu waktu tidak akan berhenti.